Dikira Hoax, Ternyata 5 Fakta Sejarah Ini Benar Adanya
Dikira Hoax, Ternyata 5 Fakta Sejarah Ini Benar Adanya

Dikira Hoax, Ternyata 5 Fakta Sejarah Ini Benar Adanya

Kesalahan pemikiran atau pemahaman sangat rentan terjadi didunia yang yang serba cepat ini. Di internet penuh dengan artikel-artikel yang mengatakan bahwa fakta yang kita tahu sekarang ternyata hoax.

Begitu juga tentang sejarah, banyak kesalahan pemahaman dan kasalahan pemikiran yang kita memiliki serta ketahui atas pemikiran yang salah tentang sejarah.

Dilansir dari listverse.com, berikut 5 kesalahan pemahaman sejarah yang bukan sekedar dugaan:

1. Kaisar Nero 

Jika kita googling tentang "kesalahan pemahaman sejarah" atau "miskonsepsi sejarah" maka dari hasil penelusuran google, akan muncul beberapa artikel yang menyebutkan Kaisar Nero tidak memainkan alat musik serupa biola ketika Roma sedang terbakar.

Sumber Wikimedia Commons

Hampir semua artikelnya mengatakan, "Kisah alat musik itu hanya rekaan. Bagaimana caranya main biola kalau biolanya tidak ada?"

Bisa jadi kita juga memiliki pemahaman yang sama tentang itu, tapi tidak paham bahwa kalimat itu hanyalah perumpamaan.

Masing-masing ahli sejarah Romawi Kuno menuturkan peristiwa Kebakaran Besar Roma secara berbeda, tapi tidak ada yang menggambarkan Kaisar Nero sebagai seorang yang hebat.

Cassius Dio dan Suetonius sama-sama mengatakan bahwa Kaisar Nero lah yang memulai kebakaran dan tidak banyak membantu warga sesudahnya. Hanya Tacitus yang mengatakan Kaisar Nero ikut sedikit membantu.

Namun begitu, Tacitus pun mengatakan ada banyak versi berbeda tentang kisah itu dan "setiap versi memiliki pendukung masing-masing."

Kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang dilakukan Kaisar Nero ketika Roma terbakar. Yang kita tahu, semua orang membencinya setelah peristiwa itu.

2. Bangsa Spartan Membunuhi Bayi-Bayi Cacat

Penulis Yunani bernama Plutarch menceritakan bahwa seorang bayi bangsa Spartan dihadapkan kepada seorang tetua yang memutuskan apakah bayi itu boleh hidup atau dilempar ke dalam sumur sampai mati.

Sumber Michael Fassbender

Selama berabad-abad, kita menerima hoax itu sebagai kebenaran hingga ada sekelompok ahli arkeologi memeriksa sumur yang dimaksud dan tidak mendapati adanya bekas-bekas peninggalan jasad-jasad bayi.

Plutarch diduga menyebar berita hoax agar bangsa Spartan terlihat jahat. Jika para ahli arkeologi memang benar, maka Plutarch adalah seorang pelaku propaganda dan penyebar hoax yang paling payah dalam sejarah.

Ia menuliskan tentang bangsa Spartan yang membunuhi bayi dalam bagian tulisan berjudul "Keunggulan Pendidikan dan Adat Pernikahan Bangsa Spartan."

Isi tulisan seakan menganggap pembasmian bayi-bayi sebagai hal yang bagus.

Sebenarnya, warga Athena juga melakukan hal yang tepat sama dengan apa yang mereka tuduhkan kepada bangsa Spartan.

Bersamaan dengan dugaan kritik Plutarch terhadap bangsa Spartan yang membunuhi bayi, seorang dokter kelahiran Yunani menuliskan makalah berjudul "Bagaimana Cara Mengenali Bayi Baru Lahir yang Pantas Dibesarkan."

Makalah itu menganjurkan agar para orangtua membuang bayi-bayi tak diinginkan hingga meninggal.

Memang benar bahwa bayi-bayi itu tidak ada di tempat pembuangan yang disebutkan oleh Plutarch. Berarti, ia sekadar salah menceritakan.

Atau bisa juga karena 2000 tahun berlalu sejak Plutarch menuliskan tentang hal itu. Tapi, satu hal yang jelas adalah bahwa tidak ada alasan apapun baginya untuk mengarang-ngarang cerita tersebut.

3. Firaun Dimakamkan Bersama Para Hamba

Menurut beberapa artikel kesalahan pemahaman yang mengejutkan, para Firaun tidak benar-benar dimakamkan bersama para pelayannya.
Sumber wikimedia Commons

Disebutkan bahwa bangsa Mesir Kuno tak membunuh para pelayan untuk dibawa ke alam baka oleh sang penguasa yang wafat.

Firaun memang wafat sendirian, tapi sejumlah temuan membuktikan bahwa para pelayan memang 'dibawa' bersama tuannya.

Para ahli arkeologi telah menemukan jasad 41 orang yang dikuburkan bersama Firaun Aha. Beberapa di antaranya adalah anak-anak dan mereka tidak mati karena sebab-sebab alamiah. Mereka terlihat mati karena tercekik.

Djer, penerus Aha, malah 'membawa' 300 orang untuk dikuburkan bersamanya.

Beberapa artikel menyebutkan bahwa kita hanya mampu membuktikan praktik itu dilakukan hanya oleh para firaun dari dinasti pertama.

4. Pythagoras Mungkin Tidak Ada

Ada sebagian orang memiliki pemahaman dan berpendapat, bahwa sang ahli matematika Yunani Kuno bernama Pythagoras mungkin saja tidak pernah ada.

Sumber wikimedia commons

Satu-satunya catatan tentang orang pintar itu hanya berasal dari para pengikutnya dan tidak ada satupun kalimat yang dituliskan oleh Pythagoras sendiri.

Fakta tersebut ternyata benar, tapi pada kenyataan itu juga terjadi pada hampir semua orang yang hidup pada Abad ke-6 SM.

Satu-satunya catatan yang ada sekarang tentang Socrates dan Confusius, misalnya, berasal dari para pengikut mereka. Kalau begitu, dengan logika yang sama, kita bisa mengatakan bahwa mereka berdua tidak ada.

Anggapan bahwa Pythagoras tidak pernah ada merupakan hal yang ganjil. Tapi, dalam dunia akademik, tidak banyak debat ilmiah tentang keberadaan tokoh itu.

Ada yang mempertanyakan apakah ia memang benar-benar melakukan semua yang disebut-sebut telah dilakukannya.

Walaupun begitu, tidak ada alasan untuk mempercayai adanya sekelompok orang yang pura-pura menjadi penggemar setia si ahli matematika, yaitu para pengikutnya.

5. Praktik Kanibal Bangsa Aztec Bukan karena Kurang Protein

Kita telah cukup lama menganggap bahwa praktek tumbal manusia dan kanibalisme bangsa Aztec sebagai hal yang cukup menyimpang hingga kemudian Michael Harner mengeluarkan pendapatnya.

sumber wikimedia commons

Ia menjelaskan bahwa kita salah mengerti tentang bangsa Aztec. Menurutnya, bangsa Aztec kekurangan protein dan melakukan kanibalisme hanya untuk bertahan hidup.

Hal itu memang mengubah cara pandang kita terhadap bangsa Aztec, tapi itu hanyalah berita hoax belaka.

Faktanya Ternyata, bangsa Aztec sebenarnya memiliki ketersediaan beragam jenis pangan dan mereka sama sekali tidak kekurangan protein.

Bangsa Aztec biasanya menyantap manusia justru ketika panen sedang amat melimpah. Lagipula, biasanya hanya kaum elite saja yang boleh makan daging manusia. Padahal mereka memiliki akses lebih baik kepada protein dibandingkan dengan masyarakat umum.

Mungkin memang lebih nyaman bagi kita kalau alasan bangsa Aztec melakukan itu untuk lebih masuk dalam pemahaman kita, akan tapi mereka melakukan ritual tumbal adalah semata-mata untuk persembahan kepada dewa-dewa mereka.

Sumber : liputan6
Advertisement

Baca juga:

Loading...
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments