Fakta Sejarah di Balik Simbol Perayaan Malam Tahun Baru

Satu bulan lagi tahun baru 2018 kita masuki, dan tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun. Momen pergantian tahun yang selalu ditunggu dan dijadikan acara pesta secara besar-besaran seantero jagat.

Macam acara dan kegiatan diisi dalam rangka merayakan dan memeriahkan pesta malam pergantian tahun pada setiap tahunnya, yakni di tanggal 31 Desember malam.

Tahun baru yang identik dengan  terompet, topi kerucut dan festival kembang apinya ini telah menjadi bagian dari kegiatan yang dilaksanakan oleh hampir semua orang didunia ini.

Konvoi dijalan, bernyanyi dan menari, acara bakar-bakar, dan lain sebagainya sudah biasa kita saksikan disetiap malam pergantian tahun.

Namun, tahukah kamu fakta unik dan menarik serta rahasia dibalik simbol-simbol pesta perayaan malam pergantian tahun masehi itu?

Berikut telah kami kumpulkan beberapa fakta unik dan menarik dibalik simbol-simbol perayaan malam tahun baru.

1. Terompet Tahun Baru


Fakta Sejarah di Balik Simbol Perayaan Malam Tahun Baru

Hampir diseantero jagat, setiap tanggal 31 Desember malam, dikala waktu menunjukkan jam 12 malam lewat 1 detik, semua orang secara serentak meniupkan terompet yang menandakan bahwa tahun telah berganti.

Karena itu, jangan heran jika hari-hari menjelang pergantian tahun, banyak pedagang terompet musiman yang menjajakan berbagai macam bentuk dan jenis terompet, ada yang terompet tiup ada juga yang menggunakan kaleng bertekanan angin.

Namun, apakah anda tahu ada rahasia dibalik terompet yang biasa anda tiup di setiap malam pergantian tahun baru tersebut?

Sadarkah anda bahwa tanpa kita sadari ada fakta yang cukup menjijikkan dibalik terompet yang kita tiup tersebut.

Disadari atau tidak, dalam menghasilkan bunyi terompet yang nyaring, tentu membutuhkan proses pembuatan yang telah diuji coba sebelumnya, dan dalam proses uji coba tersebut, kebanyakan pembuat dan pedagang terompet masih menggunakan cara tradisional, yakni dengan cara ditiup.

Iya, benar anda tidak salah baca, ditiup dengan mulut si pembuat dan penjual terompet tersebut. Sehingga denga demikian terompet yang kita tiup tentu saja bekas mulut dari sang penjual dan pembuat terompet.

Yang mana bisa jadi mereka atau si pembuat dan si penjual mengidap suatu penyakit menular yang besar kemungkinannya akan ditularkan melalui proses uji coba mulut tersebut.

Selain fakta menjijikkan tersebut, ada juga fakta sejarah dari mengapa setiap tahun yang dirayakan hampir diseantero jagat selalu membunyikan terompet, selalu identik dengan meniup terompet.

Hingga saat ini masih banyak orang yang tidak tahu mengapa dalam setiap perayaan tahun baru selalu terompet yang menjadi pilihan.

Fakta sejarah dari meniup terompet diperayaan malam tahun baru ini, awalnya merupakan budaya budaya masyarakat Yahudi.

Pada sistem penanggalan Yahudi, yakni Tisyri yang jatuh pada bulan ke tujuh, menyambut tahun baru, yang sejak bangsa Romawi kuno berkuasa atas Bangsa Yahudi ditahun 63 SM, perayaan malam pergantian tahun baru jatuh pada bulan Januari.

Dan semenjak itu, bangsa Yahudi mengikuti kalender Julian yang kemudian berubah menjadi kalender Masehi atau kalender Gregorian.

Orang Yahudi dalam mengoreksi dirinya sendiri memiliki tradisi meniup serunai atau shofar, yakni sebuah alat musik sejenis terompet pada malam pergantian tahun baru.

Shofar atau serunai ini sebenarnya termasuk dalam kategori terompet. Bunyi shofar sangat menyerupai bunyi terompet kertas yang digunakan masyarakat di Indonesia dalam merayakan malam tahun barunya.

Menurut perkiraan sejarah, terompet itu sendiri sudah ada sejak tahun 1500 sebelum Masehi. Yang mana dulunya alat tiup ini digunakan militer, pada saat akan berperang dan juga untuk keperluan ritual agama.

Dan pada pertengahan renaissance hingga saat ini, alat tiup terompet kemudian dijadikan sebagai salah satu alat musik tiup.

Selain itu, Bangsa Yahudi juga menggunakan terompet untuk mengumpulkan jamaah nya saat akan beribadah di sinagoge (tempat ibadah orang Yahudi).

Dengan kata lain, terompet adalah simbol syi’ar keagamaan bangsa Yahudi saat merayakan malam tahun baru.

2. Festival Kembang Api

Fakta Sejarah di Balik Simbol Perayaan Malam Tahun Baru

Kembang api atau bisa dibilang awal dan asal mula bubuk mesiu, diyakini berasal dari China sekitar lebih dari 2 ribu tahun yang lalu.
Dimana diceritakan bahwa dulu seorang koki di China yang tanpa sengaja mencampurkan materi dan bahan-bahan yang akhirnya menghasilkan bubuk pipih hitam yang jika dibakar akan menghasilkan ledakan yang keras, yang disebut dengan Huo Yao (bahan kimia api).

Campuran itu kemudian dimasukkan ke dalam wadah bambu dan dilemparkan kedalam api, yang menghasilkan Gas dari bubuk di dalam bambu serta menciptakan tekanan sehingga meledakkan tabung bambu tersebut.

Ledakan ini kemudian menghasilkan cahaya warna warni yang indah dan merupakan bagian penting dari kebudayaan China seperti pernikahan, ritual agama, perayaan kepercayaan dan sebagainya.

Penemuan bubuk mesiu ini akhirnya menarik dunia barat untuk mencari tahu dan mendapatkannya.

Selanjutnya, pada tahun 1560, Organisasi Ilmuwan Eropa membuat eksperimen dari Huo Yao (bubuk hitam) tersebut untuk mengendalikan jumlah ledakan.

Yang untuk selanjutnya, rasio ini terus dipakai hingga sekarang dalam membuat kembang api.

3. Topi Kerucut Tahun Baru

Fakta Sejarah di Balik Simbol Perayaan Malam Tahun Baru

Dalam setiap perayaan malam pergantian tahun masehi ini, orang-orang yang biasa ikut merayakan mengenakan topi kerucut.

Dan tahukah anda fakta sejarah dibalik topi kerucut tahun baru ini?

Topi kerucut yang biasa dipakai oleh mereka yang merayakan pergantian malam tahun baru merupakan topi yang berbentuk kerucut/ lancip yang disebut juga dengan SANBENITO.

Yang dalam sejarahnya, merupakan topi yang digunakan oleh orang-orang Islam yang telah murtad (keluar dari Islam) sebagai penanda atau simbol yang diberikan oleh Gereja Roma yang menerapkan inkuisisi Spanyol.

Spanyol yang dulunya bernama Andalusia, merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kesultanan Islam (kekuasaan khilafah). Ketika bangsa Frank yang beragama Kristen Trinitarian berhasil menundukkan dan mengalahkan Negeri Muslim Andalusia di Spanyol, menangkapi, menyiksa, dan membunuh dengan sadis penduduk yang tidak mau tunduk pada mereka.

Kristen Trinitarian kemudian membentuk suatu lembaga yang disebut Inkuisisi, sebuah lembaga Gereja Katholik Roma yang mempunyai tugas melawan ajaran sesat, atau pengadilan untuk orang yang didakwa bidat. Dan disini Muslim adalah orang yang dimaksud sesat atau bidat tadi.

Dan bagi mereka yang mau mengakui dan keluar dari Islam akan diampuni, akan tetapi sebagai pesan dan penanda bagi masyarakat spanyol saat itu, mereka yang keluar dari Islam dan mau kembali menjadi kristen atau disebut conferso pada waktu itu, diwajibkan mengenakan pakaian dan topi dalam hal untuk membedakan mereka yang keluar dari Islam dan kembali ke kristen (para converso), dengan orang-orang lain ketika berjalan di tempat-tempat umum di Andalusia, yang saat itu telah taklukkan Ratu Isabella dan Raja Ferdinand.

Pakaian dan topi yang dikenakan para converso tadi disebut dengan Sanbenito, yang merupakan sebuah pakaian yang menandakan bahwa seorang muslim di Andalusia saat itu telah murtad.

Demikianlah, fakta sejarah dibalik ornamen dan simbol-simbol perayaan malam pergantian tahun masehi yang selalu dirayakan secara meriah diseantero jagat.

Bagaimana cara anda menyikapi dan merayakannya, kami kembalikan lagi kepada keyakinan pribadi anda masing-masing.

Terimakasih.

No comments:

Post a Comment