5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax
5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax

5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax

Baca juga:

Hoax atau berita palsu telah menjadi topik hangat dalam beberapa bulan terakhir. Saking hangatnya sampai-sampai membuat collinsdictionary.com mengumumkan "Hoax" atau "Berita Palsu" sebagai kata pilihan mereka untuk tahun 2017.

Negara dengan Berita Hoax Terbesar


Negara-negara yang menganut sistem demokrasi serta memberikan ruang dalam hal kebebasan pers, sehingga membuat para wartawan dapat berharap banyak serta dapat melakukan pekerjaan mereka tanpa ada rasa takut di penjara atau di kriminalisasi oleh pemerintahnya. 

Wartawan Tanpa Batas (RWB) memberi peringkat terhadap 180 negara berdasarkan komitmen negara tersebut terhadap kebebasan pers. 

Baca: Inilah 7 Berita Hoax Penyebab Perang di Dunia

Daftar ini akan menyusut ke peringkat paling bawah dari daftar negara-negara yang memiliki kebebasan pers yang kurang atau bahkan sampai tidak memiliki kebebasan pers sama sekali. 

Daftar 5 negara terendah dibawah ini yang memiliki kurangnya kebebasan pers dan kontrol ketat dari pemerintah terhadap media-media serta melarang media-media untuk menyampaikan berita yang tidak sejalan dengan pemerintah, sehingga berita-berita palsu atau hoax telah sampai pada titik yang sangat mengkhawatirkan.

Dari ke lima daftar negara terendah ini, satu negara di Asia Tenggara masuk kedalam lima daftar tersebut, negara manakah?

1. Korea Utara
5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax

Semua orang pasti setuju, jika negara ini adalah negara yang memiliki tingkat kebebasan pers yang sangat-sangat terbatas, atau malah mungkin tidak memiliki kebebasan pers sama sekali. Cukup beralasan memang, negara ini hampir menjadi negara yang terasing, negara tertutup bahkan dikenal dunia dengan sebutan Negara Pertapa. 

Negara yang berdiri tahun 1948 ini dikuasai oleh satu orang yang kekuasaannya diturunkan secara turun-temurun dari ayah kepada anak laki-lakinya. Dinasti "Kim" telah memegang kekuasaan di Korea Utara seperti layaknya seorang raja abad pertengahan yang lalim. 

Pemimpin Korea Utara sekarang Kim Jong Un, pernah mengecap pendidikan di dunia Barat, dan dunia pun berharap jika pucuk kekuasaan berpindah dari ayahnya yang dikenal dunia dengan pemimpin yang keras, dan lalim Korea Utara akan lebih membuka diri terhadap dunia, dan menjadi lebih ramah serta damai daripada ayahnya dan kakeknya. 

Namun harapan itu nampaknya harus menjadi sebuah harapan saja, karena Kim Jong Un tetap melanjutkan tradisi keluarga untuk menyingkirkan saingannya dan dengan keras, mengancam Korea Selatan dan Amerika Serikat dengan kehancuran dan peperangan.

Media-media Korea Utara dikhususkan untuk menggambarkan keluarga Kim sebagai orang jenius dan baik hati. Warga Korea Utara diyakinkan dengan berita bahwa mereka adalah orang-orang terkaya dan paling beruntung di dunia. Berita ini ternyata hoax belaka, dan terbukti salah bahkan di akhir 1960-an dan awal 1970-an ketika perekonomian negara tetangga mereka Korea Selatan lebih unggul dari mereka. 

Bahkan sekarang karena Korea Selatan telah menjadi salah satu negara terkaya di dunia, sementara ekonomi Korea Utara runtuh sampai pada titik dimana sebanyak 3 juta orang "mungkin" telah meninggal karena kelaparan pada tahun 1990-an.

Jika orang Korea Utara menyadari tingkat kebohongan yang diberitakan kepada mereka, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika pemerintah tidak dapat lagi menahan cengkraman kekuasan nya terhadap mereka. 

Untuk mengatasi ini, Kim Dinasti menciptakan suatu masyarakat yang tertutup, dengan memberikan sedikit informasi yang diperbolehkan masuk atau keluar. Setiap orang Korea Utara yang mendengarkan sebuah stasiun radio asing, menonton film asing, atau memiliki sebuah buku atau surat kabar asing akan berisiko untuk ditangkap, disiksa, dan dideportasi ke salah satu kamp penjara di Korea Utara.

2. Suriah
5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax

Bashar al-Assad mulai berkuasa di Suriah setelah kematian ayahnya pada bulan Juni 2000. Di masa-masa awal pemerintahannya, banyak yang berharap tinggi bahwa mantan dokter mata tersebut akan muncul sebagai sang pembebas, dan memberikan demokrasi pada negara tersebut. 

Assad menjanjikan perubahan dan demokrasi, memberikan izin untuk surat kabar independen pertama Suriah untuk mulai terbit. Dia bahkan membebaskan aktivis anti-pemerintah dan menutup Penjara Mezzeh yang terkenal di Syria, di mana tahanan politik dilaporkan dipukuli dan disiksa.

Namun, semua itu tidak berlangsung lama, hanya dalam waktu setahun semuanya berubah. Narapidana yang dibebaskan, ditangkap dan dipenjara lagi, janji reformasi yang digaungkan pun dibatalkan, polisi dan petugas keamanan tetap memiliki hak untuk menyiksa tersangka dan tahanan, dan janji pers yang independen pun berakhir. 

Mungkin saja Assad terpaksa melakukan perubahan berdasarkan unsur-unsur di dalam partainya sendiri. Kemungkinan lain adalah bahwa apa yang disebut mata air Damaskus selalu dipahami sebagai rencana untuk memancing lawan politik ke tempat terbuka.

Jika Assad benar-benar memegang jabatan dengan niat baik, maka keadaan disana akan lebih baik lagi. Suriah yang terkungkung dengan perang sipil yang kejam dan kompleks sejak tahun 2012, rezim Assad telah dituduh melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap tahanan, mengepung dan membiarkan kota-kota pemberontak kelaparan, serta kejahatan terhadap kemanusiaan. 

Bank Dunia memperkirakan bahwa biaya pembangunan kembali Suriah akan melebihi 200 miliar dollar. Namun, melihat yang terjadi hingga saat ini, nampaknya tidak mungkin Assad ingin membangun Suriah baru berdasarkan keterbukaan dan kebebasan.

3. China
5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax

Pengguna internet didunia terbesar mungkin berasal dari China yang memiliki sekitar 751 juta pengguna. Walaupun demikian, mereka juga menghadapi beberapa pembatasan-pembatasan ketat pada apa yang bisa mereka akses. 

Google, Facebook, Twitter, dan YouTube semuanya diblokir oleh "Great Firewall" China. Pengguna internet malah didorong untuk mendaftar ke situs-situs serupa yang dijalankan oleh pemerintah, di mana konten dikontrol dan dipantau dengan ketat. 
Namun tidak sedikit pula pengguna internet di china mengakali batasan-batasan yang ditentukan oleh pemerintah dengan mendaftar ke Virtual Private Networks (PVN) atau menggunakan PVN, akan tetapi hal ini pun sekarang menjadi perhatian otoritas disana. Seperti yang terjadi pada bulan Desember 2017 yang lalu, dimana seorang pengusaha Cina dijatuhi hukuman lima setengah tahun penjara karena menjalankan VPN.

Pada tahun 2020 pemerintah China berencana untuk menetapkan setiap warga negara sebagai "peringkat sosial" yang ditentukan oleh algoritma komputer yang kompleks. Skor masing-masing individu akan didasarkan pada banyak faktor seperti barang yang mereka beli, apakah mereka membayar tagihan mereka tepat waktu, dan kinerjanya dalam pekerjaan mereka. 
Hampir setiap aspek kehidupan seseorang akan mempengaruhi rangking mereka, bahkan teman mereka. Orang-orang yang berasosiasi dengan penduduk dengan penilaian tinggi dan patuh akan memiliki peringkat sendiri yang ditarik, namun sebaliknya juga akan berlaku.

Dengan skor peringkat sosial masing-masing individu dipublikasikan, mereka yang berada di ujung bawah skala akan terkena dampak kemampuan mereka untuk mendapatkan pinjaman, perumahan, pekerjaan, dan bahkan perjalanan luar negeri. Rincian bagaimana algoritma akan bekerja belum dijelaskan, namun telah terungkap bahwa perilaku seseorang akan menjadi faktor dalam skor mereka. Kepatuhan akan dihargai, dan kemungkinan besar kritik terhadap pemerintah akan dihukum.

4. Vietnam
5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax

AS di era 60-an memerangi Vietnam dengan dalih memerangi Komunisme dan takut bila Komunisme bisa menguasai dunia. Teori domino menyatakan bahwa ketika satu bangsa terinfeksi Komunisme, tetangganya akan segera menyusul, jatuh seperti domino. 

Namun kenyataannya pemerintahan Komunis terbukti tidak stabil dan rawan keruntuhan. Vietnam sekarang satu dari lima negara komunis yang masih berdiri saat ini.

Media tradisional seperti radio, televisi, surat kabar dan majalah berada di bawah kendali pemerintah. Namun, lebih dari dua pertiga penduduk sekarang memiliki akses ke internet, dan pihak berwenang berjuang untuk mempertahankan monopoli mereka atas informasi saat Vietnam memasuki era digital.

Salah satu contohnya seorang Blogger yang berani mengkritik pemerintah, intimidasi, kekerasan fisik, dan penangkapan, pada bulan November 2017 lalu dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Kejahatannya adalah melaporkan tumpahan racun di pabrik baja, yang membuang sianida dan karbol ke laut dan melihat 70 ton ikan mati hanyut di pantai.

The strong-arm tactics yang digunakan oleh satu partai diktator Vietnam tetap gagal mencegah para blogger mengkritik pemerintah. Pemerintah juga tidak berhasil mencegah meningkatnya jumlah orang yang melewati media tradisional dan beralih ke internet untuk mendapatkan berita.

5. Sudan
5 Negara yang Memiliki Permasalahan Serius Tentang Berita Hoax

Sudan adalah negara terbesar ketiga di Afrika, dan merupakan salah satu negara yang paling bermasalah. Sejak tahun 1989 telah diperintah oleh Presiden Omar al-Bashir, yang merebut kekuasaan dalam sebuah kudeta militer tanpa darah. Sejak saat itu dia telah dituduh melakukan pembunuhan, pemerkosaan, genosida, dan kejahatan perang terhadap bangsanya sendiri. Dia bahkan menjadi satu dari dua kepala negara yang saat ini yang memiliki tuntutan yang diajukan terhadap nya oleh Pengadilan Pidana Internasional; Yang lainnya adalah Uhuru Kenyatta dari Kenya, meskipun dakwaan terhadapnya sejak saat itu telah dibatalkan.

Selama al-Bashir tetap berkuasa, tampaknya ada sedikit kemungkinan dia bisa dibawa ke pengadilan internasional. Karena itu, dia tidak bebas untuk melakukan suatu layatan perjalanan luar negeri ke negara lain, karena akan beresiko penangkapan terhadap dirinya. seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu, dimana dia terpaksa untuk pulang dengan terburu-buru ke negara nya dari layatannya ke Afrika Selatan ketika pihak berwenang di sana mempertimbangkan untuk menegakkan surat perintah penangkapan ICC.

Al-Bashir berpendapat bahwa dia adalah korban kampanye kecapi Barat. Setidaknya dia bisa merasa nyaman dengan kekayaan pribadi minimal $ 1 miliar, dan bahkan mungkin lebih lagi. Rata-rata warga Sudan kurang beruntung, dengan pendapatan hanya $ 960 per tahun dan harapan hidup sedikit lebih dari 60 tahun, mereka termasuk orang-orang paling miskin di dunia.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments